Mutiara Lombok meneruskan tulisan @yusuf_mansur ini sebagai Rahasia Menyelesaikan Hutang Segunung:
Allahu Akbar, Allah itu Maha Besar. Dia jelas lebih besar daripada “hutang kita”. Kenapa kita tidak melirik kepada Kebesaran-Nya ini?
Dewasa ini hutang merupakan penyakit sosial, dan penyakit massal. Dikatakan demikian, sebab nyatanya hampir lebih dari separuh penduduk, punya hutang! Hutang riil, bukan hutang negara. Di antara para penghutang, ada yang hutangnya seolah tak terbayarkan karena setinggi gunung. Ada juga yang tak terbayarkan karena tidak tahu dengan apa hutang bisa dibayar. Tapi ada juga para penghutang yang berkategori aman. Alias penghasilannya masih cukup buat bayar hutang.
Sepuluh Hal Yang Bisa Meringankan Beban
beban memang berat bila dibawa sendirian. maka berbagilah dengan Allah.
Tulisan kali ini, khusus untuk Anda yang hutangnya besar, atau sangat besar. Apalagi kalau kemudian hutang-hutang Anda ini membuat <--more--> leher Anda begitu tersekat. Karena ini pernah terjadi pada Luqman; tokoh utama dalam Wisata Hati yang kehidupannya dijadikan media pembelajaran dan tadzkirah. Dan Luqman bisa sedikit meringankan bebannya dengan menerapkan strategi berikut ini. Sekedar catatan, bagi Anda yang tidak memiliki hutang, tapi memiliki permasalahan lain, cara-cara yang akan dipaparkan ini bisa juga Anda pakai. Sesuaikan saja dengan keadaan permasalahan yang sedang terjadi. Kepada Allah jua kita hdapkan permasalahan hidup dan kehidupan kita.
1. Pahami pesan permasalahan dan mohonkan ampun atas kesalahan dan keburukan.
Sikapi dulu, pahami dulu, kenapa sampai hutang muncul dan membesar. Bila ini ada kebiasaan dari sifat yang kepengen senang tanpa perjuangan (instan), minta ampun dulu. Hal ini sama saja dengan cara menghadapi permasalahan yang lain selain hutang. Yaitu dengan memohon ampun setelah melakukan pemuhasabahan [pengkoreksian diri]. (Silahkan Pembaca membaca buku “Wisata Hati Ujian atau Azab; Ketika Permasalahan Terhidang”, untuk melengkapi pemuhasabahan).
Pahamilah, bahwa kesempitan hidup bisa muncul, sebabnya adalah kita jauh dari kita punya Tuhan, jauh dari Allah; Mungkin shalat kita belang belentong, kita tiada hormat sama orang tua, kita tiada sayang sama keluarga, kita tiada menghormati hak tetangga, kita mudah menzalimi orang, kita boros, kita bekawan sama teman-teman yang jauh dari Allah, dan hal-hal negatif lainnya yang menandakan kita sudah jauh dari Allah;
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit…” (Thâha: 124).
Salah satu bentuk kesempitan hidup adalah adanya hutang yang tidak terbayar atau piutang yang tidak kunjung tertagih. Bentuk kesempitan yang lain adalah apapun bentuknya yang dirasakan sebagai kesusahan oleh manusia pada umumnya; seperti penyakit yang menahun, kemiskinan yang penuh dengan duka dan derita, kebangkrutan yang menghempaskan kita dari kehidupan normal, hilangnya pekerjaan, rumah tangga yang tidak sakinah, dan sebagainya.
Maka untuk mengubah keadaan menjadi baik, atau menjadi lebih baik dari sebelumnya, perlu kiranya kita melayangkan permintaan maaf dulu kepada Allah „azza wa jalla;
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Allah akan menutup kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (at Tahrîm: 8).
Andai hutang adalah akibat kesalahan, maka dengan diawali permohonan ampun kepada Allah, insya Allah, berdasarkan ayat tersebut, kesalahan tersebut akan ditutup oleh Allah. Dan surga yang disebut di ayat tersebut bisa kita terjemahkan ke pengertian suasana yang penuh dengan kenikmatan. Bukankah kenikmatan adanya bila ketenangan kembali menghiasi hidup? Bukankah kenikmatan adanya bila hutang bisa terbayar? Bukankah kenikmatan adanya bila hidup kembali normal, dengan keluarga bisa ngumpul, tidak lari-larian terus? Surga adalah kenikmatan. Dan kita kejarlah surga dunia dengan memohon ampun kepada Allah.